,

Berhentilah Melakukan Maksiat

berhentilah melakukan maksiat

berhentilah melakukan maksiat – menyebut bulan Ramadhan adalah saatnya inabah ( tobat ). “Wahai hamba-hamba yang lalai berasal dari kebenaran, padahal telah dibukakan pintunya. Bersiaplah kalian untuk diterima, sebab saat ini (Ramadhan) adalah waktunya pengijabahan (dikabulkan). Adam, ayah kalian, menangis sebab satu dosa sepanjang tiga ratus th. (maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai mata [QS. Al-Hasyr: 2]).”

“Wahai hamba-hamba yang melakukan dosa , waspadalah atas ketergelinciran. Sebab, (sebuah kesalahan) dapat menyebabkan orang yang mencintai mengatakan: (inilah perpisahan antara aku dan kau [QS. Al-Kahf: 78]). Bencana terbesar adalah perjalanan kendaraan menuju negeri Sang Kekasih (Allah yang Maha Mencintai) selagi di dalam perjalanan mereka telah menyia-nyiakan waktu.”

Wahai orang yang dahulu punyai hati yang sehat sesudah itu sakit. Ingatlah kesalahanmu! Dulu, alangkah bagusnya hatimu dan begitu jernihnya minumanmu, maka perbanyaklah perasaan sedih atas musibah. Tidak tersedia alasan kembali bagimu kini selain menetapi pintu dokter (penyembuh). Jika kau tidak dapat berobat, menangislah! Karena tangisan adalah modal manusia yang fakir.”

Berhentilah Melakukan Maksiat

Sayyid Abdul Aziz al-Darani menganjurkan untuk bergegas, jangan hingga penyia-nyian itu membuahkan ungkapan di dalam al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 78), “hadza firâq bainî wa bainik—inilah perpisahan antara aku dan kau.”

Selanjutnya beliau mengingatkan bahwa manusia pada mulanya “fitrah” atau suci. Rasullullah bersabda, “kullu mauludin yuladu ‘ala al-fitrah—setiap kelahiran dilahirkan di dalam suasana suci.” Kemudian, dengan melakukan maksiat dan dosa, hati yang awal mulanya sehat berubah sakit.berhentilah melakukan maksiat

Dengan sisa bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, masih belum terlambat untuk memulainya sekarang. Di bulan maghfirah (ampunan) dan ijabah (pengabulan) ini, bakal amat rugi jika kita hanya berdiam diri tanpa menuju atau mengupayakan untuk capai ampunan dan ridha-Nya. Dan tobat adalah tangga pertama untuk memulainya. Lalu, bagaimana cara dan beberapa ciri tobat yang benar?

Sayyid Abdul Aziz al-Darani melukiskan tobat yang benar dengan kalimat sebagai berikut:

والتوبة الصادقة تقطع آثار الذنب, إذا صدق التائب أنسي الله تعالي الملائكة ذنوبه وأنسي بقاع الأرض عيوبه ومحا من أم الكتاب زلاته ويحاسبه يوم القيامة عليها

“Tobat yang benar adalah memutus bekas pengaruh-pengaruh dosa. Jika benar tobat seseorang, Allah bakal menyebabkan malaikat lupa bakal dosa-dosanya dan menyebabkan penduduk bumi lupa bakal aib-aibnya. Allah bakal menghapus kesalahan/dosa-dosanya berasal dari umm al-kitab dan menghisabnya secara segera di hari kiamat kelak.”

Sederhananya, tobat yang benar adalah usaha sungguh-sungguh di dalam memutus rantai kekeliruan sekaligus bekas-bekasnya, dan bersihkan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan berasal dari kesalahan-kesalahan itu. Jika kekeliruan itu tentang dengan orang lain, dia mesti menghendaki maaf dengan sungguh-sungguh sehingga orang itu memaafkannya.

Inilah alasan kenapa di dalam beberapa ciri benarnya tobat seseorang ditandai dengan “Allah menjadikan para malaikat lupa bakal dosa-dosanya dan menjadikan penduduk bumi lupa bakal aib-aibnya.” Sebab, jika seseorang sungguh-sungguh bertobat, dia bakal selesaikan dua tanggungannya sekaligus.

Pertama, tanggungannya kepada Allah, dan kedua, tanggungannya kepada makhluk-makhluk Allah. Tanggungan kepada Allah relatif ringan dilakukan, sebab ampunan Allah jauh lebih besar berasal dari murkaNya. Pintu tobatnya selalu terbuka untuk hamba-hamba-Nya yang membutuhkan, lebih-lebih yang telah bermaksiat berulang kali sekalipun.berhentilah melakukan maksiat

Taubat Nasuha
Tobat yang diperintahkan sehingga dilaksanakan oleh kaum mu’minin adalah tobat nasuha (yang semurni-murninya) seperti disebut di dalam Al Quran:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS at-Tahrim: 8)

Kemudian apa arti tobat nasuha itu? Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsirnya: “artinya adalah, tobat yang sesungguhnya dan sepenuh hati, bakal menghapus keburukan-keburukan yang dilaksanakan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertobat, dan juga menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya.”

Sedangkan nasuha, menurut Syaikh Yusuf Qardhawy dalam at Tobat Ila Allah, adalah redaksi hiperbolik berasal dari kata nashiih. Seperti kata syakuur dan shabuur, sebagai bentuk hiperbolik dari syakir dan shabir. Dan terma “n-sh-h” di dalam bhs Arab bermakna: bersih.

Dikatakan di dalam bhs Arab: “nashaha al ‘asal” jika madu itu murni, tidak mempunyai kandungan campuran. “Sedangkan kesungguhan di dalam bertobat adalah seperti kesungguhan di dalam beribadah,” tuturnya.

Dan di dalam bermusyawarah, an-nush itu bermakna: membersihkannya berasal dari penipuan, kekurangan dan kerusakan, dan menjaganya di dalam suasana yang paling sempurna. An nush-h (asli) adalah lawan kata al-gisysy-(palsu).

Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menjelaskan berasal dari Umar, Ibnu Mas’ud dan juga Ubay bin Ka’b r.a. bahwa pengertian tobat nasuha: adalah seseorang yang bertobat berasal dari dosanya dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan.

Allah menyukai orang-orang yang bertobat. Imam Nawawi al-Bantani di dalam Nashaih al-Ibad, menuliskan sebuah hadis riwayat Abu Abbas. “Allah lebih puas pada tobatnya seorang hamba yang bertobat melebihi senangnya orang haus yang menemukan air, atau orang mandul yang punyai anak, atau senangnya orang yang kehilangan barang lalu menemukannya. Maka, barang siapa yang bertobat kepada Allah dengan tobat nasuha, Allah bakal menyebabkan lupa para malaikat yang menjaganya, anggota tubuhnya, dan juga bumi yang dipijaknya atas dosa dan kekeliruan yang telah dia lakukan.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan tobat nasuha? Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan, tobat nasuha, yakni tobat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang mengumpulkan dan mengentaskan pelakunya berasal dari kehinaan.

Dalam kitab Riyadh as-Shalihin dijelaskan, jika kemaksiatan itu menyangkut urusan seorang hamba dengan Allah saja, tidak tersedia hubungannya dengan hak manusia, tobatnya mesti mencukupi tiga syarat.

Pertama, hendaklah berhenti melakukan maksiat.
Kedua, menyesal sebab telah melakukan kemaksiatan.
Ketiga, bermaksud tidak bakal kembali mengulangi tingkah laku maksiat itu untuk selama-lamanya.

Apabila tobatnya perihal dengan hubungan sesama manusia, tiga syarat tersebut ditambah satu lagi. Orang yang bertobat itu mesti menghendaki kehalalan berasal dari orang yang disita hak-haknya atau dizalimi.berhentilah melakukan maksiat

Rasulullah mengajarkan kita mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscaya dengan kebaikan itu bakal gugur masing-masing keburukan. Karena, seperti sabda Nabi berasal dari Abdullah bin Umar, “Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba sepanjang ruhnya belum hingga di kerongkongan.”

Manusia tak bakal dulu dapat lepas berasal dari sinar Allah, segelap apa pun lakon hidupnya. Dalam bhs Chairil Anwar, dia terlafaz, Tuhanku/di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak dapat berpaling.

Tobat Menurut Al Ghazali

Tobat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali di dalam kitabnya “Ihya ulumuddin” adalah sebuah arti yang terdiri berasal dari tiga unsur: ilmu, perihal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, sesudah itu yang kedua hal, dan ketiga amal.

Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang terjadi di dalam kerajaan dan malakut-Nya.

Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan semua yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu bakal berpengaruh di dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan sebab kehilangan yang dia cintai. Karena hati, dikala ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia bakal merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia bakal menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan.

Menurut Al-Ghazali, jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh di dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu bakal mendorong munculnya perasaan lain, yakni tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang harusnya pada selagi ini, kemarin dan bakal datang.

Tindakan yang ia melakukan selagi ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan pada masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia melakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.

Yang pertama adalah ilmu. Al-Ghazali menyebut, dialah pangkal pertama semua kebaikan ini. “Yang aku maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman artinya pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya dan juga mencukupi hatinya. Maka sinar iman di dalam hati ini dikala bersinar bakal membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan.berhentilah melakukan maksiat

Karena dengan sinar iman itu ia dapat memandang bahwa selagi ini, sebab dosanya itu, ia terhambat berasal dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi sinar matahari, dikala ia berada di dalam kegelapan, maka sinar itu menyingkirkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat memandang yang dia cintai. Dan dikala ia mengetahui ia nyaris binasa, maka sinar cinta di dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya dan juga mengejar yang dia cintai itu”.

Al-Ghazali menjelaskan, ilmu dan penyesalan, dan juga tekad untuk meninggalkan tingkah laku dosa selagi ini dan masa bakal datang, dan juga mengupayakan menutupi tingkah laku masa lalu mempunyai tiga arti yang tentang dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan tobat.

“Banyak pula tobat itu disebut dengan arti penyesalan saja. Ilmu bakal dosa itu dijadikan sebagai permulaan, namun meninggalkan tingkah laku dosa itu sebagai buah dan konsekwensi berasal dari ilmu itu,” tuturnya.

Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah Saw: “Penyesalan adalah tobat” (Hafizh al ‘Iraqi di dalam takhrij hadits-hadits Ihya Ulumuddin berkata: hadis ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim. Serta ia mensahihkan sanadnya berasal dari hadits Ibnu Mas’ud. Dan diriwayakan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim berasal dari hadits Anas r.a. dan ia berkata: hadis ini sahih atas syarat Bukhari dan Muslim), sebab penyesalan itu dapat terjadi berasal dari ilmu yang mewajibkan dan juga membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yakni buahnya dan apa yang membuahkannya.”berhentilah melakukan maksiat