,

Bacaan Doa Sholat Dhuha Lengkap

bacaan doa sholat dhuha

bacaan doa sholat dhuha – Dalam ajaran Islam, umat islam diperintahkan untuk melakukan ibadah sebagai syarat rukun islam. Salah satu ibadah yang diwajibkan adalah sholat. Sesuai syariat hukum Islam, sholat terbagi menjadi dua, yakni sholat kudu dan sholat sunnah.
Dalam sebuah HR Muslim menyebutkan, “Setiap pagi, masing-masing ruas bagian badan kalian kudu dikeluarkan sedekahnya. Dan tiap tiap bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah dan melarang berbuat mungkar adalah sedekah. Kesemuanya itu mampu diganti dengan dua rakaat Dhuha.”
(HR. Muslim).

Panduan Bacaan Doa Sholat Dhuha Lengkap

Sholat dhuha sedikitnya 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat. Sholat ini dikerjakan secara tidak berjamaah.

Berikut tata cara sholat dhuha seperti dikutip berasal dari buku yang mirip dengan di atas:

a. Niat Sholat dhuha di didalam hati berbarengan dengan Takbiratul ihram:

اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى

“Ushalli Sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”

Artinya:

“Aku kemauan sholat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah ta’ala.

b. Membaca Doa Iftitah

c. Membaca surat Al Fatihah
d. Membaca satu surat di didalam Al Quran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam dan rakaat ke-2 surat Al Lail.
e. Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali.
f. I’tidal dan membaca bacaannya.
g. Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali.
h. Duduk di pada dua sujud dan membaca bacaanya.
i. Sujud ke-2 dan membaca tasbih tiga kali. Setelah rakaat pertama selesai, melakukan rakaat ke-2 sebagaimana cara di atas, kemudian tasyahhud akhir. Setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat setelah itu dikerjakan mirip seperti perumpamaan di atas.

Sholat kudu merupakan sholat yang kudu dikerjakan didalam lima saat yakni subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Sedangkan sholat sunnah merupakan sholat yang dianjurkan untuk dikerjakan namun tidak kudu didalam pelaksanaannya. Diantara macam sholat sunnah yakni sholat sunnah dhuha, tahajud, hajat, witir dan sebagainya.
Pada artikel ini bakal dibahas perihal sholat dhuha dan juga bacaan doa sehabis dhuha beserta maknanya.
Shalat sunnah dhuha merupakan sholat sunnah yang dikerjakan khusus pada saat pagi menjelang siang. Sholat dhuha terlampau dianjurkan karena merupakan saran berasal dari Allah SWT dan juga membawa hikmah yang besar bagi muslim yang melaksanakannya.
Waktu Sholat Dhuha
Terdapat beberapa riwayat perihal saat pelaksanaan sholat dhuha. Amr bin Abasah ra meriwayatkan sebuah hadist didalam riwayat Muslim berikut:

قدِم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ، فقدِمْتُ المدينةَ، فدخلتُ عليه، فقلتُ: أخبِرْني عن الصلاةِ، فقال: صلِّ صلاةَ الصُّبحِ، ثم أَقصِرْ عن الصَّلاةِ حين تطلُعُ الشمسُ حتى ترتفعَ؛ فإنَّها تطلُع حين تطلُع بين قرنَي شيطانٍ، وحينئذٍ يَسجُد لها الكفَّارُ، ثم صلِّ؛ فإنَّ الصلاةَ مشهودةٌ محضورةٌ، حتى يستقلَّ الظلُّ بالرُّمح

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkunjung ke Madinah, saat itu aku pun berkunjung ke Madinah. Maka aku pun menemui beliau, lantas aku berkata: wahai Rasulullah, ajarkan aku perihal shalat. Beliau bersabda: kerjakanlah shalat shubuh. Kemudian janganlah shalat saat matahari sedang terbit sampai ia meninggi. Karena ia sedang terbit di pada dua tanduk setan. Dan saat itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah ia meninggi, baru shalatlah. Karena shalat saat itu dihadiri dan disaksikan (Malaikat), sampai bayangan tombak mengecil” (HR. Muslim no. 832).

Selain itu, beberapa ulama menyatakan bahwa saat dhuha jatuh kira-kira 15 menit sehabis matahari terbit. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

ووقتها يبتدئ من ارتفاع الشمس قيد رمح في عين الناظر، وذلك يقارب ربع ساعة بعد طلوعها

“Waktu shalat dhuha adalah diawali saat matahari meninggi setinggi tombak bagi orang yang melihatnya (matahari). Dan itu kira-kira 15 menit sehabis ia terbit”

Dari beraneka riwayat perihal saat sholat dhuha, berasal dari Zaid bin Arqam ra menyatakan perihal saat yang paling utama mengerjakan sholat dhuha.

أنَّه رأى قومًا يُصلُّون من الضُّحى في مسجدِ قُباءٍ، فقال: أمَا لقَدْ علِموا أنَّ الصلاةَ في غيرِ هذه الساعةِ أفضلُ، قال: ((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى

Zaid bin Arqam lihat sekelompok orang yang sedang melakukan shalat Dhuha. Kemudian ia mengatakan, “Mereka kemungkinan tidak mengetahui bahwa tidak cuman saat yang mereka melaksanakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat awwabin hendaknya dikerjakan saat anak unta merasakan terik matahari” (HR. Muslim no. 748).

Jumlah Rakaat Sholat Dhuha
Sebagaimana saat pelaksanaan sholat dhuha, terkandung beberapa riwayat yang menyatakan kuantitas rakaat sholat dhuha sebagai berikut.

Shalat dhuha dikerjakan sedikitnya dua raka’at sebagaimana didalam hadits Abu Dzar dan Abu Hurairah. Disebutkan didalam hadits dengan kata “dua rakaat shalat dhuha”.

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Di pagi hari ada kewajiban bagi semua persendian kalian untuk bersedekah. Maka tiap tiap bacaan tasbih adalah sedekah, tiap tiap bacaan tahmid adalah sedekah, tiap tiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan tiap tiap bacaan takbir adalah sedekah. Demikian juga amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah. Semua ini mampu dicukupi dengan melakukan shalat dhuha sebanyak dua raka’at” (HR. Muslim no. 720).
Jika kuantitas rakaat sholat dhuha sedikitnya dua rakaat, beberapa jumhur ulama berpendapat kuantitas maksimal sholat dhuha sebanyak delapan rakaat. Hal ini didasarkan berasal dari hadits Ummu Hani’ didalam riwayat Bukhari:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عامَ الفتحِ صلَّى ثمانَ ركعاتٍ سُبحةَ الضُّحى

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di th. terjadinya Fathu Makkah beliau shalat delapan rakaat shalat dhuha” (HR. Bukhari no. 1103, Muslim no. 336).

Umat muslim secara umum sangat percaya kuantitas maksimal rakaat sholat dhuha sebanyak dua belas rakaat berdasarkan riwayat hadist berikut:

َمَنْ صَلَّى الضُّحٰى اِثْنَتٰى عَشَرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang melakukan sholat Dhuha dua belas rakaat, Allah bakal membuatkan baginya istana di surga” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sebagian ulama lain berpendapat kuantitas rakaat sholat dhuha tidak ada batasannya. Aisyah ra berkata,

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضُّحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ اللهُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dhuha empat raka’at dan beliau biasa memberikan sesuka beliau” (HR. Muslim no. 719).

Niat Sholat Dhuha
Sholat dhuha membawa kemauan sholat khusus yang hendaknya diucapkan pada saat takbiratul ihram sholat dhuha. Berikut bacaan kemauan sholat dhuha.

اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى
“Ushollii Sunnatadh Dhuha Rok’ataini Mustaqbilal Qiblati Adaa’an Lillaahi Ta’aalaa.”

Artinya:

Aku kemauan sholat sunnah Dhuha dua rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah Ta’ala”